Sebut saja Bang Asep  seorang asli dari ranah sunda  dengan perawakannya yang kurus kecil dan wajah yang sedikit agak tampan dengan bangga nya pergi ke perguruan tinggi negeri di salah satu kampus yang berada di daerah Sleman Yogyakarta.dengan semangat yang membara  serta percaya diri yang tinggi berangkatlah ia mengenakan pakaian batik berwarna merah kelam, padahal hari menunjukan bukan untuk mengenakan  pakaian batik ,usut punya usut ternyata hal yang tidak wajar ini adalah untuk   memperingati hari batik sedunia yang jatuh pada tanggal 2 Oktober .
Pada hari itu selasa menunjukan pukul 8 pagi setiap pandangan mata menuju kepada batik para mahasiswa kompak berseragam  mengenakan batik  bukan hanya sosok Asep saja yang bangga mengenakan pakaian batik, namun tentu saja masyarakat Indonesia selaku pemilik sah lisensi dari UNICEF  dan seluruh dunia pastinya sangat bangga sekali dan cinta akan pakaian dengan motif indah ini (batik).
Masih dalam suasana yang membanggakan yaitu harinya batik dengan keindahan motif serta berbagia bentuk warna-warna yang menggambarkan keragaman serta makna yang ada di dalamnya ,namun di dalam keindahannya ada terbesit rasa miris yang luar biasa bgaimana tidak .batik yang dua hari lalu merasakan ulangtahunnya yang ke -2 sungguh tidaklah indah di pandang dari segi nonteknis ,ketika sang pengrajin batik (pembuat batik) yang begitu indah serta proses pembuatannya yang begitu rumit tentunya harus di hargai dengan stimpal namun akan tetapi  mereka (para pengrajin batik ) hanya di hargai dengan gaji 8 ribu rupiah per hari.sungguh “terlalu” mungkin ucap bang H Rhoma Irama seperti itu ,bayangkan saja mereka (para pengrajin batik) kerja mulai dari pagi hingga sore hari  berkonsentrasi tinggi membatik ,mulai dari mempersiapkan kain ,membentuk pola yang akan di buat,mempersiapkan tinta (lilin malam ) dan pemanas,canting ,serta ketelatenan luar biasa.
Ibu watinah yang asli keturunan dari Solo merupakan salah satu pengrajin batik di salah satu pengrajin batik daerah Jogjakarta ,setiap hari tanpa libur membatik berangkat dari rumah pagi hari  hingga  ia pulang sore hari ibu 2 orang anak ini dengan semangat yang tinggi mengangkat canting kemudian meniupnya sedikit demi sedikit (lilin malam) kemudian  (membatik) membentuk pola yang sesuai pesanan .terkadang  panas dan cairan itu meleleh di tangannya namun ia tak menghiraukannya satu jam berlalu terus ia lanjutkan proses itu secara berulang-ulang sehingga terbentuknya sebuah kain dengan motif cantik dan sedap di pandang ,
Ibu Watinah telah berkarya dan membuat batik selama 15 tahun lamanya tentu bukan waktu yang singkat untuk menjadi seorang yang ahli dalam bidang ini ,mulai ia umur belasan tahun hingga sekarang pekerjaan yang di gelutinya tetap memberikan kehidupan bagi keluarganya ,namun di balik indahnya dan kecantikan batik yang ia buat helaan nafas di dada mendengar bahwa ia hanya di gaji 8000 per hari .sungguh gaji yang tidak sesuai baginya bagaimana tidak pekerjaan yang sudah di geluti selama 15 tahun tidak dapat memberikan kesejahteraan yang sesuai di jaman sekarang dengan harga ini dan itu .namun dengan nada yang sopan ia berucap syukur akan apa yang ia rasakan sekarang ia menerima dengan lapang dada dan tetap menjalankan kegiatannya sehari-harinya dengan sabar dan telaten . tentunya sosok ibu watinah bangga sekali karyanya di pakai oleh kalangan orang,memberikan manfaat yang besar bagi orang lain, dan orang yang memakai batik pun bangga akan pakaian ini ,akankah sosok ibu watinah terus menerus seperti ini atau bahkan penerus batik selanjutnya harus seperti ia pula ,menahan panas  (lilin malam) ,mengucurkan keringat serta menghela nafas akan gaji yang tidak sesuai dengan karya yang ia buat ,ya tuhan semoga apa yang beliau lakukan menjadi berkah dan rahmat bagi dirinya dan semuanya ,
Dibalik kisah hari batik ini tentunya menjadi hikmah yang luar biasa ,selamat hari batik serta hari yang berkah bagi  para pejuang batik  di manapun kalian berada ..
Salam Batik Lovers www.batikmuda.com @BatikMudaID