Panggung mode tak melulu membahas mengenai tren terbaru, melainkan bisa menjadi panggung edukasi sejarah bangsa, seperti yang disuguhkan tiga perancang muda di Jakarta Fashion Week 2013. Iwan Amir,Lulu Luthfi Labibi, dan Sischaet Detta merupakan tiga talenta muda mode Indonesia yang dipilih Pusat Kebudayaan Belanda Eramus Huis untuk merejuvinasi atau membangkitkan kembali pamor batik Belanda yang tengah tertidur.

Padahal,dulu,batik yang kental dengan nuansa floral itu sempat menjadi primadona di kalangan bangsawan Belanda di Indonesia kendati pamornya tidak sampai ke negara asalnya. “Saya pakai baju batik di Belanda,orang-orang bertanya baju apa yang saya pakai,”tutur Direktur Erasmus Huis Ton van Zeeland saat jumpa pers di function roomPlaza Senayan,beberapa waktu lalu. Kendati bernama “impor”,batik Belanda ternyata hanya populer di Tanah Air.

batik muda

Sebutan batik Belanda mengacu pada karya-karya batik yang dibuat dalam industri batik milik wanita pengusaha Indo-Eropa pada masa kolonial.Adapun pola dan motifnya memang terpengaruh budaya Eropa.Tidak heran bila di kain batik Belanda terdapat banyak motif bunga dan kisah dongeng.Pada masa kini, masyarakat lebih akrab dengan sebutan batik buketan. Padahal, sebenarnya batik tersebut merupakan turunan dari batik Belanda, asimilasi budaya batik dengan selera noni Belanda.

Kata buketanberasal dari bouquetyang berarti ‘bunga’. Prihatin dengan miskinnya pengetahuan masyarakat Indonesia dan Belanda akan warisan budaya dua bangsa tersebut, Erasmus Huis mengajak tiga desainer muda Indonesia untuk mengeluarkan koleksi batik Belanda dengan sentuhan modern dalam sebuah pergelaran busana bertajuk “The Revival of Batik Belanda”.Fashion showyang dihelat di Fashion Atrium Plaza Senayan itu memiliki kemasan yang berbeda dengan pertunjukan lainnya.

Tidak hanya karena padat sejarah dan mengajak para tamu untuk bernostalgia ke masa kolonial, pergelaran dari tiga alumnus Lomba Perancang Mode (LPM) Femina 2011 itu juga dilengkapi dengan pameran mengenai sejarah perkembangan batik Belanda di Indonesia. Di catwalk,Iwan Amir membuka pertunjukan dengan koleksi bergaya kasualetnik. Menggunakan warnawarna cerah,seperti kuning, oranye,merah,dan biru, Iwan yang mengusung tema “Afternoon’I”sengaja menonjolkan motif floralyang menjadi ciri khas batik Belanda. Untuk menambah kesan domestik,Iwan mengombinasikan batiknya dengan bahan lokal.

“Saya memang ingin mengangkat kain-kain tradisional Indonesia, terutama tenun,”ujar desainer asal Kalimantan Timur ini. Kontras dengan Iwan yang menggunakan warna-warna senja,Sischaet Detta bermain dengan kombinasi palet hitam dan emas.Dia mengatakan, inspirasi karyanya berasal dari perang yang terjadi di zamanVOC bercokol di Indonesia. Sementara itu, Lulu mengombinasikan lurik dan batik Belanda ciptaannya lewat tema “Shade in Culture”.Kombinasi yang tidak biasa antara batik dan lurik bisa menjadi alternatif tersendiri.

“Bisa dilihat kalau ternyata batik itu versatile, bisa di-mix and match dengan bahan lain,”katanya. Dari segi cutting,Lulu juga memberi banyak alternatif padu padan,seperti rompi lilit,tube dresslilit,bolero, kimono beserta obi,maupun celana berdetail sequinsemas. lesthia kertopati

Salam Batik Lovers www.batikmuda.com @BatikMudaID