Mana yang lebih baik sebagai Hari Keris Nasional; 12 Maret atau 25 November?

Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) mengusulkan hari keris nasional agar tercantum dalam kalender nasional untuk diperingati setiap tahun sebagai warisan budaya asli bangsa Indonesia.

“Dua tanggal itu memiliki makna serta riwayat masing-masing untuk menjadi bahan pertimbangan,” kata Ketua Umum SNKI, Erman Suparno pada diskusi SNKI, di Museum Pusaka, Taman Mini Indonesia Indah(TMII), Jakarta, Minggu.

Dia mengatakan akan membentuk tim dari unsur pemerintah, akademisi, pakar, dan penggemar, untuk merumuskan dan memilih salah satu dari dua opsi tanggal tersebut.

Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini menjelaskan, usulan tanggal 12 Maret, karena pada 12 Maret 2006 dilakukan pertemuan para paguyuban pemerhati dan pencinta keris yang di berbagai daerah di Indonesia.

Pertemuan diselenggarakan di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, yang hasilnya bersepakat mendeklarasikan berdirinya SNKI, sebagai wadah komunikasi dan kerjasama antarmasyarakat perkerisan Indonesia.

“Berdirinya SNKI ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” katanya.

Opsi kedua, usulan 25 Nopember, karena pada 25 Nopember 2005, organisasi internasional UNESCO World Heritage memberikan penghargaan kepada keris Indonesia sebagai Karya Adiluhung Warisan Kemanusiaan atau “The Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity”.

Menurut dia, piagam penghargaan dari UNESCO diserahkan langsung oleh pimpinan UNESCO Koichiro Matsuura kepada Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, di Jakarta, pada 6 Desember 2005.

Pakar Keris Indonesia, Haryono Haryoguritno menambahkan, sebenarnya ada satu usulan lagi sebagai opsi hari keris nasional, yakni dengan merujuk pada tanggal dilakukannya Sumpah Palapa oleh Patih Kerahaan Majapahit, Gajahmada.

Dari pendekatan peristiwa dan sejarah keris, tanggal dilakukannya Sumpah Palapa, menurut dia, adalah tanggal yang paling tepat.

“Persoalannya, Sumpah Palapa itu dilakukan pada tanggal berapa? belum ada yang tahu secara persis,” katanya.

Mantan ajudan Presiden Pertama Republik Indonesia ini berharap ada ahli yang tahu dan bisa melacaknya.

Namun dari dua opsi tanggal yang ada, pada 12 Maret dan 25 Nopember, Haryono lebih setuju memilih pada 12 Maret.

Pertimbangannya, pada 12 Maret dilakukan pertemuan para paguyuban pemerhati dan pencinta keris yang di berbagai daerah di Indonesia yang kemudian mendirikan SNKI.

di kutip dr : 
antara 

Salam Batik Lovers www.batikmuda.com @BatikMudaID